Not Yet
.
No, I won´t give up
No, I won´t break down
.
-not.over.yet-
.
.
No, I won´t give up
No, I won´t break down
.
-not.over.yet-
.
Selamat kepada Mutje, Sang Juara Espresso Cup yang digelar di Kedai Kopi, akhir pekan lalu. Pemain debutan ini berhasil memenangi duel deathmatch melawan Roby "Champy", pemain veteran yang memiliki rekor emas di kejuaraan ini. "Malam ini sungguh luar biasa! Saya tidak pernah menyangka akan menang pada kejuaraan pertama saya. Saya akan mengingat malam ini selamanya!", ujar Sang Jawara penuh kebahagiaan.
Sebagai pemain pendatang baru, Mutje sempat terseok-seok di babak awal. Ia seringkali salah langkah dan kehilangan poin-poin penting, membuat dirinya tertinggal jauh dari pemimpin klasemen. Namun, ternyata tak membutuhkan waktu lama bagi pemain asal Sleman ini untuk menemukan permainan terbaiknya dan mengejar ketertinggalan. Pada game ke-8, ke-9, dan ke-10, ia mencetak skor tertinggi (44, 39, dan 48) yang membawanya ke puncak klasemen. Kedudukannya seolah tak tersentuh, hingga pada tiga game terakhir, Roby "Sang Legenda Hidup" berturut-turut mencetak angka 30, 47, dan 44 yang memaksa pertandingan harus diselesaikan melalui babak deathmatch.
Meski sejak awal kurang diunggulkan, Mutje tampil penuh percaya diri. Berulang kali ia melancarkan trik dan gerakan tak terduga yang membuat lawannya kewalahan. Tanpa mendapatkan perlawanan berarti, Mutje sukses menundukkan Roby "Champy" dengan skor telak 15-3 dalam duel satu lawan satu.
Raihan sensasional Mutje ini membawa dirinya ke jajaran pemain papan atas. Para pengamat memprediksi bahwa kemenangan Mutje di Espresso Cup akan terus berlanjut pada seri-seri kejuaraan berikutnya. Tidak mudah memang, mengingat kejuaraan ini selalu diikuti oleh pemain-pemain kelas wahid seperti "Baginda" Nobu, Roby "Champy", Afid "TempeBoy", Agung "EL", Tika "Kodok", dan Danur "Alumnus", dan Bowie "Cocobi".
Well, kita tunggu saja kiprah Mutje "The Rising Star" selanjutnya!
:-)
PS:
Selamat ulang tahun ya Tje!
I'm wishing u all the best! :-)
Setahun berlalu sejak peristiwa itu. Hampir saja aku melupakannya. Kuhentikan sejenak langkahku, dan kukumpulkan kembali potongan memori yang sempat tercecer. Kususun potongan-potongan ingatan itu satu demi satu, seperti menyusun kepingan puzzle. Perlahan tapi pasti, memori itu kembali utuh. Aku merasa seperti menonton kembali film kesayangan yang udah lamaaaa terlupa. Seketika, perasaan itu menyusupi rongga dadaku yang tiba-tiba terasa semakin sempit. Perasaan getir yang amat sangat.. Tapi entah bagaimana, aku tetap tersenyum. Walaupun getir, aku merasa bahagia..
Aku bersyukur..
***
[Terus Hidup]
Aku dibangunkan oleh suara Kanjeng Ratu, "Gempaa.. gempaa!! Banguun, Naakk!" (Suara Kanjeng Ratu bener-bener ampuh deh. Bahkan Troll Gua pun bakal bangun kalo denger teriakan beliau di pagi hari..hihi). Aku berusaha untuk sadar walaupun jutaan ton pemberat masih menggelayuti mataku. Rasanya pusiing. Duniaku berguncang hebat dengan suara berisik. Sangat sulit untuk bangun dan berdiri tegak. Aku memang baru tidur kurang dari satu jam, karena semaleman ngerjain tugas kuliah. Makanya, waktu itu aku pikir duniaku saja yang berputar akibat kurang tidur. Baru beberapa detik kemudian aku sadar kalo ada yang ngga beres.. Gempaa!! Aku mengucek mata sebentar lalu dengan tergopoh-gopoh berlari keluar rumah. Aku yang terakhir keluar.. Dan sesaat kemudian bumi berhenti mengamuk.
Bagi sampeyan yang juga mengalami kejadian pagi itu, mungkin tau gimana pemandangan di luar rumah. Semua orang tampak bingung, dengan muka dan pakaian "ajaib" berdiri di halaman rumah, dan melemparkan pandangan menuduh ke arah utara, ke Gunung Tinggi Besar itu, yang waktu itu memang lagi suka cari perhatian.. Hihihi. Si Gunung Tinggi Besar itu pun bingung kenapa semua orang memandang ke arahnya, dan seolah ia berkata "Hei, yang tadi itu bukan aku!".
Aku selalu menganalogikan kejadian ini seperti ketika kita sedang ngumpul rame-rame, lalu tiba-tiba mencium bau mematikan. Mak nyuuss.. Spontan, smua orang langsung melempar pandangan nuduh ke salah satu teman tercintah yang secara historis memang punya "catatan emas" dalam bidang ini. Hahaha.. Trus teman kita ini berseru panik, "Ehh! Bukan Gue!! Enak aja!!". Ternyata memang bukan dia pelakunya. Hahahaha.. (siapa hayooo??)
Kehebohan di pagi itu ternyata hanya sebuah pembuka dari kisah yang akan selalu dikenang oleh siapapun yang mengalaminya. Aku merasa sangat bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk terus hidup.. Sekali lagi kita diingatkan betapa kecilnya manusia di hadapan-Nya..
[Pertemuan itu]
Pernahkah kamu mengalaminya: pertemuan yang telah mengubah hidupmu. Pertemuan itu membuat hidupmu lebih nyeni, lebih berwarna, dan lebih menyenangkan. Pertemuan itu membuat hidupmu terasa lebih hidup. Halahh.. Pernahkah?
Aku pernah, dan aku sangat bersyukur karenanya :) Aku beruntung bisa bertemu dengan mereka, sahabat-sahabat terbaikku. Tak terhitung berapa banyak petualangan yang kualami bersama teman-teman ajaib yang wagu, ndeso, njelehi, dan ndak mutu itu.. hahaha. One of the best part of my life is with when i'm with u guys!
Karena persitiwa itu pulalah aku bertemu dengan teman-teman kecilku di Rumah Teman. Malaikat-malaikat kecil inilah yang mengajarkanku ketegaran, semangat hidup, dan harapan. Melihat bagaimana mereka bisa tetap ceria di tengah musibah dan segala keterbatasan hidup, menyadarkanku bahwa dalam situasi sesulit apapun kita masih punya harapan.
Sesulit apapun, kita masih bisa tersenyum :)
***
"Selalu ada hikmah dibalik musibah", itu yang sering dikatakan Kanjeng Ratu kepadaku. Sekarang aku baru ngerti makna kalimat sederhana itu. Sepahit apapun cobaan hidup yang dihadapi, kita masih patut bersyukur.
Selalu ada pelajaran yang bisa dipetik dari sebuah peristiwa. Sebuah musibah merupakan awal dari perjalanan baru, yang arahnya ditentukan oleh bagaimana kita menyikapinya. Bukan begitu?
Nah, adakah pelajaran yang sampeyan petik dari musibah ini?
.
-satu.tahun.gempa.jogja-
.
PS: posting ini juga aku bikin untuk Dia yang sedang bersedih.. U´ll be alright.. :)
Selamat untuk FC Internazionale dan smua Internisti yang kemaren merayakan scudetto yang ke-15.
Sampean ngga perlu niru perayaan kayak gini kan? :-)
Forza Inter!
Sampean pernahkah terpikir, kalo hidup itu seperti bersepeda. Kita harus menentukan tujuan, mencari rute yang akan ditempuh, mempersiapkan bekal, dan mengayuh sekuat tenaga hingga sampai di garis finish. Dunia yang kita huni ini semakin tua. Jalan yang harus kita tempuh pun ngga selalu lurus dan mulus. Banyak kejutan yang menanti. Kita bakal menjumpai tikungan tajam, tanjakan dan turunan, jalan licin, berbatu, berlubang, dan berpaku, serta polisi tidur. Halahh..
Ngga ada yang mudah memang. Tapi ngga ada alasan untuk nyerah. Kayuh..kayuhh..kayuuhh..
***
[Rumah, setengah tujuh]
Setelah sempet tertunda beberapa kali, akhirnya aku jadi juga pergi sepedaan sama Mas Dias. Ngga sabar rasanya untuk memulai debut dalam dunia persepedaanku. Halah. Jam setengah tujuh udah bangun, siapin sepeda dan kostum, trus tidur lagi! Hahaha..
[Sofa ruang tengah, setengah delapan]
Suara Kanjeng Ratu Hemas (pinjem istilahnya ya, Ndoro] membuatku terjaga, kaget. "Mas Diasnya udah nunggu itu lhoo, kok malah tidur lagii! Hayoo cepeet!! Graawww!!" Hyaaa!! Ampuun Kanjeng Ratuu...
[Depan rumah, setengah delapan lewat lima menit]
Aku dan Mas Dias udah siap di depan rumah. Pak Ibnu (ayahanda Mas Dias) dan temen beliau berangkat berdua, kelamaan nunggu aku siap-siap. Maaf ya Pakk.. hehe.
Aku pake jersey sepeda biru (punya Big Boss) dan celana basket (pinjem Dhek Rocky). Hehehe.. Ngga mau pake short pants super ketat kayak Mas Dias, kasian yang liat.. Wakaka.
[Masih depan rumah, setengah delapan lewat sepuluh menit]
Aku baru sadar kalo rantai sepedaku copot! Ya ampuun!! Benerin dulu yuukk..
[Beberapa ratus meter dari rumah, jam delapan kurang something]
Duh, belum-belum kok udah pegel. Aha! ternyata sadel-nya kurang tinggi, akibatnya kakiku ngga bisa lurus. Itu yang bikin cepet capek. Aku minggir sebentar, naikin sadel (alesan untuk istirahat.. hahaha) dan jalan lagi. Mas Dias nengok ke belakang, geleng-geleng kepala.. Hahaha. Maaf ya Mass ;p
[Utara Gebang, dua puluh menit kemudian]
Berhasil ngelewatin tanjakan dan turunan. "Ternyata ngga begitu capek, cuma segini toh", pikirku.
Aku (A): "Masih jauh Mas?"
Mas Dias (MD): "Setengahnya aja belum"
A: "Ternyata ngga capek-capek amat ya"
MD: "Wah, berarti lumayan juga kamu.."
A: "Hehehe.."
MD: "Kalo Bapak (Pak Ibnu) naik sepedanya ngeri. Was-wes-was-wes.."
A: "Whoee... beliau doyan ngebut toh.. Kuat juga ya.."
MD: "He eh tuh. Kita sih nyante aja. Pelan-pelan"
Aku baru nyadar kalo dari tadi itu nggenjotnya pelan-pelan banget. Kalo Pak Ibnu bisa kenceng, masak priyayi tangguh kayak aku kalah..
A: "Yuk, ngebut dikit Mas!"
MD: *pandangan agak ngga percaya* "Hah? Oh. Yukk!"
Mas Dias mengayuh sepedanya lebih cepet, dan aku nyusul di belakangnya.. Weeesss!
[Suatu tempat sebelum Mbesi, lima belas menit kemudian]
A: *ngga bersuara*
MD: "Mulai capek ya?"
A: "Hosh.. Yahh, lumayan.. Hosh.. Hoshh"
Faktanya adalah: Mataku mulai buram, lengan dan kakiku "geringgingen", tanganku mulai kesemutan, tenggorokanku kering, dan ngga punya cukup nafas bahkan untuk ngomong.. Hoshh.. Hosshh..
[Suatu tempat sebelum Mbesi, sepuluh menit kemudian]
A: "Mas, ini ngga pake istirahat ya?"
MD: "Hahahaha! Capek toh? Ngomong doong.."
A: "Lha ini udah ngomong. Haahh.. haaahhh... Ada orang mau pingsan kok malah ngguyu..Hhaah.."
MD: "Wakaka.. Ntar istirahat di pertigaan Mbesi situ ya.. dikit lagi kok.. ayo smangat!"
A: "Hahh..haahh.. Ampuuunn.."
[Surga dunia!! (Pertigaan Mbesi -red), entah jam berapa]
Haahh--- Haahh--- HaaahH---
A: "Mas.. Hahh..Hahh.. Kalo istirahat tuh harus berdiri gini ya? Ngga boleh duduk?"
MD: "Hahaha.. ya boleh lah. Mau duduk po? Monggoo.."
Tanpa ba-bi-bu, aku langsung menggeletakkan diri di pinggir jalan, ngga berdaya.
Mas Dias pasrah. Maaf ya Mas.. Hahaha. Yahh, jagoan kan perlu istirahat juga.. ;-p
[Lampu merah sebelum UII, jangankan mikirin waktu, bernafas aja udah susah..]
MD: "Eh Gung, terus aja. Kalo naik sepeda ngga perlu berhenti kok.."
A: "Oh.. iya Mas.. ngga berhenti.." (Hosh..hoshh..)
Sial! Kesempatanku untuk istirahat hilang sudah.. Padahal udah aku pas-in dari jauh supaya kena lampu merah. Huhuhu..
[UII, Jakal km 14]
Aku baru bener-benr sadar kalo kendaraan bermotor adalah penemuan terhebat sepanjang sejarah, dan Pakem ternyata jauuhh!!
[Beberapa ratus meter dari UII]
A: "Haa..ahh.. hubaa.. hubaa.. wuwuwuwuw.." mulai ngga waras*
MD: "Hahahaha. Istirahat dulu lg aja yukk.."
A: (Melotot-melotot.. menjulurkan lidah.. geleng-geleng kepala. "Wrrrlllwwllll.." Apapun untuk tetep sadar)
MD: "Minggir wae yuukk.. Kalo dipaksa nanti jantungnya pecah lho" *tatapan iba*
Waduh Mas, aku ngga tau lagi masih punya jantung apa ngga. Mas Dias memperlambat genjotan sepedanya, kemudian menepi.
A: "Hhh.. hahh.. Ampun Gustii.."MD:
"Pelan-pelan aja.. udah mau nyampe kok.."
Beberapa penyepeda melesat cepat dari arah atas, menyapa Mas Dias.
A: "Mas, kalo mau duluan monggo dehh.. Silakan.. Nanti aku tak nyusul sampean.."
MD: "Halahh. Mesti mau mbalik thoo? Udahh. istirahat dulu sebentar, trus habis itu lanjut lagi. Oke?"
[Finish: Pakem]
Eureka!! Sampai juga! Setelah mengalami keputusasaan berkali-kali, halusinasi, fatamorgana, dan gejala setengah sinting, akhirnya aku berhasil sampe di Pakem!! (di Rumah Sakit Jiwa-nya maksudnya.. hahaha). Ternyata di sana udah ada puluhan orang bersepeda ngumpul. Mereka minum-minum teh anget, makan jajanan pasar, atau sekedar ngobrol ngalor-ngidul berbagi cerita. Komplit wis!
Di sana bertemu seorang kakek berumur 82 tahun yang nyepeda dari rumahnya di Kota Gedhe. Beliau ini masih rutin bersepeda minimal seminggu sekali. Jangankan Pakem, ke Borobudur, Glagah, dan bahkan Solo pun simbah ini masih kuat! *geleng-geleng ngga percaya..* Oye tenan Mbah! Ngga kuku! :-)
Makasih banyak untuk Mas Dias, Pak Ibnu, dan Bapak-bapak temennya Pak Ibnu yang aku lupa namanya (maaf Pak..). Pengalaman yang hebat untukku. Walaupun capek, tapi seneng banget. Minggu depan lagi yukk! Eh, tapi minggu depan aku ke Jakarta.. Hehe :-)
Nah, sekarang aku tinggal pijet-pijet kaki sambil nggosok pake Counterpain, dan nempelin Salonpas. Harap maklum, lha wong balung tuwo.. :-)
.
-mens.sana.in.coropore.sano-
At the moment, i´m feeling that life is like a river´s current.
You just flow with it, and see where it takes you. And
i´m like a fish, who wish to make it all the way to the end of the river without getting caught, eaten, or beaten in between.
I wonder where i´ll end up spending the rest of my life. Sometimes i´m getting tired of the place where I live now (this country *sigh*), but at the same time i´m loving it more. I´m tired of all of the messy-ness of it. Really. But I feel warm here when i´m gathering with my beloved family and friends. This is my home :-)
I just don´t know what I want to be in life, yet. It´s all a question mark now. How about you?
"Just keep swimming. Just keep swimming. Just keep swimming, swimming swimming. What do we do? We swim, swim, swim." -Dory (Finding Nemo)
PS: Btw, what fish am I? Not "arwana" I guess.. hahaha. Puas?? Puas?? :))
Dua bulan berlalu sejak terakhir kali aku nulis di sini, dan keadaan telah banyak berubah.
.
Terakhir kali aku nulis, aku baru aja pulang dari nonton bola. Nah, kalo sekarang, aku nulis sepulang dari main bola. Udah berubah kan? Sampeyan bisa lihat ada perubahan kata kerja di situ, dari "nonton" jadi "main". Halahh.. Tapi bukan perubahan itu yang mau kutekankan di sini, tapi perubahan keterangan tempat. Waktu itu aku nonton sepak bola di Stadion Gottlieb-Daimler, Stuttgart, sedangkan tadi sore aku main di lapangan parkir TK Budi Mulya, Condong Catur, Ngayogyakarta Hadiningrat. Nah di situ sampeyan bisa liat perbedaannya.. (tadi menang 10-9 lawan tim Coro. Silakan latian lagi.. hihihi)
Yup, aku udah kembali ke republik tercinta, Endonesah. Begitu pulang langsung mumet liat tanah air yang semakin runyam. Ternyata berita yang setiap hari aku baca di ranah maya tentang kondisi negara ini benar adanya. Mulai dari smakin parahnya bencana lumpur di Sidoarjo, bencana kapal Levina II, musibah pesawat Adam Air dan Garuda, brigadir polisi pecas ndahe yang ngamuk karena akan dipindah-tugaskan ke daerah, seorang ibu yang bunuh diri dengan membawa serta ketiga anaknya, perilaku anggota DPR yang makin ngga tau malu (udah denger tentang permintaan anggaran untuk sewa pengawal pribadi?), sampai pencopetan yang aku liat langsung di KRL Jakarta-Bekasi. Well, home sweet home.. *mengelus dada*
Ngomong-ngomong soal pulang, sebenernya banyak temen-temen yang mengira kalo aku masih melanglang buana di sarang bule sana, terutama menurut temen-temen yang hanya ketemu via messenger. Itu salah kawan. Aku udah di Jogja... Tenan wis. Aku udah balik lagi ke rutinitas lamaku, menunggang motor tuaku, dua kali seminggu masuk kuliah, dan setiap hari berangkat ke pabriknya Juragan Mandor yang kumisnya masih tetep oke itu :-)
Banyak juga yang ngira aku udah lulus. Hwaduhh.. ini fitnah! Lha wong kuliah aja belum rampung. Masih ada mata kuliah ajaib yang harus kuperdalam. Hayoo, coba tebak, kuliah apa?
a. Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam
b. Ramuan dan Jampi-Jampi
c. Mantra dan Guna-Guna
d. Ekonometri
Jawabannyaa..? Ho oh! D!!
100 poin untuk sampeyan!
Hahahaha..
Bagian terbaik dari kepulanganku adalah (ehemm..) menemukannya kembali, My Little Fairy (a.k.a. Ndoro Putri). Jangan ditanya deh kita udah ngapain aja.. Hohohohoo... *ketawa ngga jelas*
.
Dua bulan berlalu sejak terakhir kali aku nulis di sini, dan keadaanku memang udah banyak berubah.
.
Perubahan lain (yang ngga penting) misalnya rambutku yang udah pendek lagi.. Huhuhu. Kalo ini, hasil cukur paksa yang diprakarsai oleh Ndoro Putri dengan iming-iming ditraktir nonton film Ghost Rider (semurah itu ya hargaku? Hahahaha!). "Dan aku rela meninggalkann.. rambutku..." *gaya Daid Naif* Halahh... Sampeyan-sampeyan yang dari kemarin protes karena aku kayak wedhok sekarang boleh tersenyum.. :-)
Nah, bagaimana dengan sampeyan? Ada cerita apa dalam 2 bulan terakhir ini?
.
-i.m.home-
.
PS:
I´m so glad to be here, really. But i should also confess that I´m missing that place so much.. Ich vermiße Deutschland zu viel..
Recent Comments